Rabu, 24 September 2014

Mengukir Takdir


Dan biarkan aku berlari
Terengah-engah menggenggam resah hati
Sampai jasad lelah mencari apa yang dikehendaki hati
Agar luka malu untuk menyapa lagi
Agar perih enggan untuk bertamu lagi
Hingga beban tak sanggup meminta tanggung jawabku lagi…

Dan biarkan aku sendiri
Terpaku disudut sepi
Mengukir takdirku sendiri
Agar rindu mendengar bisik hati
Agar jiwa merasakan kehangatan kembali
Hingga aku bisa melukis senyum dengan senang hati
Bersama mereka yang kucintai

Senin, 01 September 2014

Selamat Jalan, Kawan...



Jika aku bisa memutar waktu
Aku ingin kembali kemasa itu
            Dimasa yang tak pernah kurasakan derita
            Yang ada hanyalah tawa
            Dimasa yang tak pernah kurasakan beban
            Yang ada hayalah kegembiraan
Kawan...
Ingatkah kau akan petualangan yang kita lewati dimasa itu?
Menyelusuri hamparan sawah nan hijau
Dipagi buta untuk menuntut ilmu
Melangkahkan kaki bersama-sama
Diiringi nyanyian burung nan merdu
Saling berpegangan tangan

      Tapi,...
      Apa hendak dikata,
      Jika kau lebih dahulu melepaskan tanganmu
Sawah nan dulunya hijau
Kini menjadi padang ilalang nan gersang
Nyanyian burung nan merdu
Kini tiada terdengar lagi
            Dan kaupun telah pergi
            Menghadap sang Ilahi
            Selamat jalan, Kawan....

Jumat, 22 Agustus 2014

Rupiah Tidak Mengenal Saudara



Mata ini mungkin selalu redup saat kepiluan melanda
Namun, hati selalu bertanya
Hal yang tak dapatku mengerti
Hal yang tak dapat kupungkiri
Semakin dalam
Semakin perih..

Aku kira kalian bersedia menjadi payung kala hujan membasahi hatiku
Aku kira kalian akan menggapai tanganku ketika terjatuh.

Tapi,semua itu hanyalah harapan-harapan hampa yang beralaskan kata-kata indah.

Setidaknya kalian telah membenarkan cerita kawanan burung tua di negeri antah berantah bahwa rupiah tidak mengenal saudara.

Kamis, 26 Juni 2014

Nelangsa


Dulu saja,
Aku sempat  berfikir untuk meninggalkan mereka tanpa menimbang rasa
Tapi,
Sekarang, tanpa banyak bicara
salah satu dari mereka telah meninggalkanku
Aku nelangsa....
Tak tahu menyikapi rasa...

Akh....
Manusia,
Terlalu egois terhadap rasa
Berani meninggalkan
Tapi, tak sanggup ditinggalkan...

Senin, 23 Juni 2014

My Profile


 




Namaku Febriyanti Zahra Kausar, biasa dipanggil "Febri". Beberapa dari temanku memanggil "Zahra" namun kedua orang tuaku memanggil "Yanti". Anak pertama dari tiga bersaudara. Berasal dari salah satu kota yang sedang berkembang di Riau yaitu kota Bangkinang. Sekarang, Aku menetap di Kota Pekanbaru sejak tahun 2009 yang lalu. Kota yang dikenal dengan Kota Bertuah ini telah banyak mengajarkanku bagaimana cara menikmati dan menghargai hidup. Dikota ini juga, salah satu tempatku menimbah dan berbagi ilmu. Menjadi alumni Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim sejak Juli tahun 2013 yang lalu dan sekarang mengajar di salah satu sekolah swasta di Pekanbaru.


If I'm not for myself, who will be for me?
If I'm not for others, what am I?
and If not now...
When?

Tak perlu tangis untuk apa yang terjadi saat ini, suatu saat nanti kita akan bersyukur atas apa yang kita rasakan saat ini. Bahagia adalah pilihan dan sedih bukanlah paksaan. Berjuang untuk hidup orang-orang yang turut memperjuangkan hidup kita, jadilah yang terbaik!

Rabu, 11 Juni 2014

Jangan Sok Berkuasa

Jangan karna kuasa yang ada
Kalian bertindak semena-mena
Apa kalian lupa pada Dzat yang lebih berkuasa?
Sehingga, menabur duri diatas pusaran ketidakberdayaan orang lain menjadi hal yang sangat menyenangkan
Membuat kalian lalai dalam menyikapi rasa
Atau mungkin kalian berserah diri untuk mendengarkan sumpah serapah
Ataupun menyambut riang karma dari Yang Maha Kuasa

Kamis, 05 Juni 2014

Jika suatu saat nanti kau tidak lagi bersamanya
Dan ketika kesendirian masih setia menemaniku
Maka, Datanglah...
Kan Ku sambut kedatanganmu dengan tangan terbuka
Kan Ku rangkul dirimu dengan penuh cinta
Kan Ku penuhi hati dengan penuh cinta
Walaupun terluka

Minggu, 20 April 2014

Rindu Mentari





 Disinilah aku berdiri
Menanti sang mentari
Menyambut riang kicauan burung nan bernyanyi
Seolah mengobati rindu kepada sinar yang menghangatkan hati
 

Ku langkahkan kaki tuk megejar mimpi-mimpi
Ku ayunkan tangan tuk mengukir cita dihati.
Pelan tapi pasti

Melalui hamparan padi nan hijau berseri
Sesekali ku temui babi hutan nan kesal menampakkan diri
Dengan sisnis dia bertanya, kenapa kamu harus melawan nasib ini?
Dengan jengkel dia berkata, janganlah kamu berkeras hati..

Tapi, aku tak peduli…
Pun juga takkan merintih
Dalam diam kuterus berlari, mengejar mimpi-mimpi
Obati hati akan rindu sang mentari…